Berpikir induktif :

Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.


Sebagai contoh,
dalam ilmu biologi berdasarkan pada pengamatan, dari beberapa binatang menyusui
ternyata selalu melahirkan. Sehingga kita bisa membuat generalisasi secara induktif
bahwa setiap binatang menyusui adalah melahirkan.


Berpikir deduktif :

deduktif adalah pengambilan kesimpulan untuk suatu atau beberapa kasus khusus yang didasarkan kepada suatu fakta umum.
Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Sebagai contoh:
Premis 1: Jika ada 2 garis sejajar, maka sudut-sudut yang dibentuk kedua garis sejajar tersebut dengan garis yang ketiga adalah sama.
Premis 2: Jumlah sudut yang dibentuk oleh sebuah garis lurus adalah 180 derajat.


Simpulan :

  1. berpikir induktif, merupakan kebalikan dari berpikir deduktif yaitu proses
    pengambilan keputusan dimulai dari hal-hal yang bersifat khusus menuju umum.
    Istilah ini dikenal dengan generalisasi.

  2. Berpikir deduktif merupakan proses berpikir yang dimulai dari hal-hal yang bersifat
    umum menuju pada hal-hal yang bersifat khusus. Dalam logika, berpikir deduktif
    disebut dengan silogisme.

  3. Berpikir analogis, yatiu berpikir untuk mencari hubungan antarperistiwa atas dasar
    kemiripannya.

  4. Berpikir integratif terdapat dua komponen yaitu internal dan eksternal. Internal
    terdiri atas tujuan, materi pelajaran, metode, media dan evaluasi. Komponen
    eksternal mencakup guru, orang tua dan masyarakat sekelilingnya.

  5. Berpikir abstrak, yaitu berpikir dalam ketidakberhinggaan, sebab bisa dibesarkan
    atau disempurnakan keluasannya.

Konsep logika induktif

Untuk menggali area konsep logika deduktif, kita bisa kembali memperhatikan ilustrasi di atas. Pada ilustrasi 1 dijelaskan adanya hubungan sebab dan akibat dengan kesimpulan yakni seorang penyanyi papan atas sudah pasti hidup dalam kemewahan.

Namun di sisi lain, kita tahu bahwa tidak semua penyanyi papan atas hidup dalam kemewahan. Beberapa penyanyi papan atas hidup sederhana karena berbagai alasan, misal karena ia sedang sepi job, tidak banyak acara yang bisa diisi sehingga penghasilannya hanya sedikit.

Demikian halnya dengan ilustrasi kedua. Orang-orang sering berpikir bahwa orang yang mendapat prestasi cum laude saat kuliah pasti lebih mudah diterima untuk bekerja di berbagai perusahaan. Kesimpulan ini mungkin diperoleh karena umumnya banyak orang yang mengalami atau melihat kasus yang sama. 

Jadi penarikan kesimpulan di atas hanya sebuah probabilitas atau kemungkinan. Dengan kata lain, kita bisa saja salah menarik kesimpulan.

Penarikan kesimpulan semacam ini disebut konsep logika induktif. Dalam konsep logika ini, kita dapat menarik kesimpulan dari sebuah kemungkinan (kemungkinan besar atau kemungkinan yang masuk akal) meskipun bisa saja terjadi kesalahan dalam penarikan kesimpulan tersebut.

Konsep logika induktif juga sering disebut sebagai konsep logika statistik (atau probabilistik) karena penarikan kesimpulannya dapat diambil dari kasus-kasus yang bersifat eksperimental.

Konsep logika deduktif

Perhatikan ilustrasi ketiga. Dalam ilustrasi di atas, terdapat dua premis, yakni (1) sebelumnya ada 30 murid di dalam kelas, dan (2) sekarang ada 29 murid di dalam kelas, dengan kesimpulan “terdapat 1 murid yang tidak berada di dalam kelas”.

Artinya, argumen menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan yang dilakukan didasarkan pada fakta sehingga kesimpulannya juga bukan sekedar kemungkinan, namun sebuah kepastian.

Penarikan kesimpulan demikian disebut konsep logika deduktif.

Nah itu dia dua cara penarikan kesimpulan yang terdapat dalam konsep logika. Sekarang kamu sudah tahu, yuk, bagikan artikel ini agar teman-temanmu juga tahu!

Belajar tentang logika juga kadang memusingkan. Tidak ada salahnya kamu menarik nafas dulu dan beristirahat. Biarkan dirimu ditemani oleh VELO, kantong nikotin buat kamu pengguna produk nikotin berusia 18 tahun atau lebih, bukan perempuan hamil atau menyusui. Tidak ada pembakaran, tidak ada asap, santuy!

Comments